Opo Kek Blog – Sejak pagi hari, hati ini sudah niat banget untuk kembali menjelajahi Air Terjun di kawasan Kudus, Jawa Tengah. Beberapa postingan teman-teman di sosial media tentang air terjun yang bermunculan di Kudus, membuat saya tergiur untuk kembali menjelajahinya. Jadilah saya mencoba untuk menelusuri jejak-jejak menuju air terjun tersebut agar nantinya tidak nyasar dan mudah untuk ditemukan saat mengunjunginya.

Saya sangat tertarik dengan Air Terjun Kaliyetno yang berada di desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Lokasinya tepat di atas makam Kaliyetno. Sangat mudah diakses dan jalannyapun mulus. Sekitar tiga puluh menit dari rumah. Kudus memang kota paling kecil di Jawa Tengah. Namun tak bisa dipungkiri bahwa Kudus memiliki wisata alam yang patut untuk di kunjungi. Salah satunya adalah air terjun, yang seakan-akan, semakin hari, semakin bertambah. Terhitung sejak postingan pertama tentang Air Terjun hingga tulisan ini di terbitkan, sudah ada sekitar enam air terjun di Kudus yang pernah saya posting di blog ini.

Baca di sini beberapa air terjun yang ada di kudus.

Rencana awal, berangkat dari rumah sekitar pukul 14.00 WB, namun kenyataannya tak bisa berangkat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Bukan tanpa alasan, waktu itu keadaan memang tidak memungkinkan untuk berangkat sesuai jadwal. Ada beberapa hal yang menyebabkan keberangkatan tertunda. Cuaca yang cerah membuat saya yakin untuk memundurkan jadwal menuju ke Air terjun Kaliyetno. Hanya mundur beberapa jam saja dari jadwal yang telah ditentukan.

Sekitar pukul 16.00 barulah sampai di rumah setelah menyelesaikan beberapa hal yang membuat rencana ke Air Terjun Kaliyetno tertunda. Saya memaksakan diri untuk tetap berangkat menuju Air Terjun Kaliyetno pada pukul 16.30 WIB. Suasana sore itu tiba-tiba berubah drastis hingga membuat saya pesimis untuk berangkat. Mendung gelap dengan beberapa suara hantaman petir yang menggelegar terdengar di telinga. Namun rasa penasaran saya akan Air Terjun Kaliyetno membuncah. Cukup positif thinking walau hati ketar-ketir akan datangnya hujan. Tiga puluh menit berlalu, sampailah di kawasan makam Kaliyetno yang merupakan tempat terakhir untuk kendaraan. Beruntung sekali akses menuju air terjun Kaliyetno sangat mudah untuk diakses tanpa ada kendala sedikitpun sehingga sampai di sana sesuai perkiraan.

 

Rute menuju Air Terjun Kaliyetno : Dari pusat kota menuju Jl. Sunan Muria – Polsek Dawe – ambil arah Ternadi – ikuti jalannya sampai ketemu pertigaan tugu yang mirip dengan Monas – Ambil kanan (nanjak) – lurus hingga sampai di Makam Kaliyetno.

Tak cukup sampai di situ saja perjalanannya. Saya harus berjalan kaki sekitar sepuluh menit untuk menuju Air Terjun Kaliyetno. Dengan semangat dan rasa penasaran akan air terjun tersebut, secepat mungkin saya melangkahkan kaki melewati jalan setapak yang dikelilingi kebun kopi. Bukan hanya karena penasaran saja yang membuat saya tergesa menuju air terjun, namun juga waktu yang serasa memburu saya dengan tanda cuaca yang meragukan dan hari yang semakin gelap. Suara gemuruh air sudah mulai terdengar saat sampai di jalan setapak yang menurun menuju aliran air terjun. Melompat dari satu batu ke batu yang lainnya, menyisiri aliran air terjun Kaliyetno, hingga akhirnya terlihat air terjun yang beraliran deras dan bervolume besar dari atas tebing. Saat itu memang musim hujan, sehingga aliran air sangatlah besar.

Batu besar yang berada di pinggiran aliran air terjun Kaliyetno menjadi tempat saya untuk duduk sejenak menikmati Air Terjun Kaliyetno, menutup mata, meresapi sejuknya kawasan air terjun tersebut. Melepas lelah dan mengusap peluh akibat tergesa saat berjalan menuju air terjun. Memandangi guyuran air yang terjatuh dari atas tebing, rasanya ingin sekali mendekat dan bermanja dengannya. Namun karena waktu yang terlalu sore, membuat saya mengurungkan niat untuk bermanja dengan guyuran air tersebut. Cukup merasakan air yang mengalir dari guyuran air terjun dan memotretnya dari jarak yang cukup dekat. Segar dan menyejukkan.

 
Hari semakin gelap, langit birupun tetap tertutupi oleh mendung yang sedari sore sudah menutupinya. Saya bergegas kembali ke parkiran kawasan makam Kaliyetno untuk mengambil kendaraan dan kembali pulang. Lokasi Air Terjun Kaliyetno masih terlihat alami, belum ada sampah yang berserakan. Tulisan kreatif para vandalism juga tak satupun tertera pada batu-batu yang ada di sini. Satu hal yang membuat sedikit iba, belum ada kantong sampah yang terdapat di sekitaran air terjun. Dikhawatirkan jika ini dibiarkan, akan membuat kawasan Air Terjun Kaliyetno kotor dengan sampah yang berserakan. Semoga pengelola kawasan Air Terjun Kaliyetno segera membuatkan kantong sampah bagi pengunjung.
 
 

Air terjun, Wisata Alam

34 thoughts on “Sejenak Menikmati Air Terjun Kaliyetno Kudus

        1. Bertahap mas. Ini sudah ada foto-fotonya, tinggal nge postnya hhehe. Belajar Slow Speeed, aku suka itu dan itu yang masih aku pelajari. Ayok Mas blajar bareng hehehehe.

        1. Pakai kamera hp juga bisa kok Hend. Kalau menurutku si yang menyebabkan bisa seperti itu karena cahaya. Kalau cahaya terang banget susah dapet yang seperti itu. Harus minim cahaya untuk mendapatkan foto seperti itu. Berdasarkan pengalamanku sih. Aku cuma pakai kamera pocket soalnya.

          1. Harus pinter-pinter cari suasana Hend. Kalau aku lebih memilih sore hari, waktu petang untuk memotret air terjun agar gambar yang diinginkan itu dapet.

  1. Segeerrr banget air terjunnya, Yas. Jalan setapaknya belum disemen atau pake paving ya? Hmmm udah banyak diracuni postingan air terjun di lereng Muria sama Yasir. Saatnya menunggu cuaca sedikit cerah biar bisa mlipir dari satu air terjun ke air terjun di Kudus. 😀

    1. Jalan setapaknya masih alami semua Koh, jadi masih berupa tanah dengan semak-semak di pinggirannya. Ayok agendakan ke Kudus lagi biar bisa eksplore air terjun di Kuudus Koh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *