Opo Kek Blog – Ramadhan merupakan bulan yang spesial dibandingkan bulan lainnya. Di dalam bulan Ramadhan terdapat malam dimana Al Qur’an diturunkan yang disebut dengan Nuzulul Qur’an. Maka dari itu, banyak daerah-daerah yang menggelar berbagai macam acara untuk mnyambut Bulan yang penuh berkah ini. Acara tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pengunjung untuk berdatangan.

Kudus, kota yang terkenal dengan sebutan kretek itu juga memiliki sebuah tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Acara tersebut dikenal dengan sebutan Dhandangan
Baca juga : Yuk ke Dhandangan Kudus Jawa Tengah

Dhandangan merupakan sebuah tradisi turun-temurun yang mulai dikenalkan oleh Sunan kudus pada masanya untuk menandai datangnya bulan suci Ramadan. Nama Dhandangan itu sendiri diambil dari suara bedug yang pada waktu itu dipukul oleh Sunan Kudus untuk menandai awal dimulainya puasa di Bulan Suci Ramadhan. Saat bedug tersebut ditabuh, maka akan mengeluarkan suara yang berbunyi dang… dang… dang…. Dari suara bedug tersebut, tercetuslah nama Dhandangan.
Awalnya, Dhandhangan adalah tradisi berkumpulnya para santri Sunan Kudus di depan Masjid Menara Kudus setiap menjelang Ramadan untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa. Sunan Kudus dahulu dikenal sebagai seorang ulama yang ahli ilmu falak oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya, sehingga banyak orang yang berdatangan ke Kudus untuk menunggu pngumuman dimulainya puasa. Sunan Kudus sendiri mengumumkan awal puasa di pelataran Masjid Menara kudus dengan menabuh bedug. Dengan ditandainya bedug yang ditabuh oleh sunan Kudus, menandakan bulan Puasa telah tiba.
Kesempatan ini juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di sekitar masjid, sehingga akhirnya kini dikenal masyarakat sebagai pasar malam setiap menjelang Ramadhan. Acara Dhandangan itu sendiri di gelar di sepanjang Jalan Sunan Kudus hingga alun-alun dan sebagian Jalan Kudus-Jepara. Hingga saat ini para penjual yang ada di Dhandangan tidak hanya dari Kudus saja. Bahkan ada yang berasal dari Sumatra, Surabaya, Bali, Bandung dan masih banyak dari daerah lain.

Selama ini yang saya lihat di Dhandangan adalah para pedagang yang menjajakan dagangannya berupa mainan anak, aksesoris, pakaian, buah, minuman dan makanan cepat saji. Nah kali ini ada yang membuat saya tertarik untuk kembali berkeliling ke Dhandangan. Kali ini Disperindag Kabupaten Kudus menggandeng para pengrajin batik di Jawa Tengah untuk ikut serta meramaikan Dhandangan. Ada banyak stand yang sudah disiapkan oleh Pemda kudus untuk para pelaku usaha Batik dari berbagai daerah yang ada di Jawa Tengah.
Berikut beberapa stand batik yang saya kunjungi di Dhandangan.

1. Stand Batik Kudus


Kudus memiliki batik khas dengan motif Parijoto. Mengapa Parijoto? Alasannya, Parijoto merupakan buah yang menjadi ciri khas kota Kudus. Jenis buah ini juga bisa dimanfaatkan sebagai obat lo.
Baca juga : Parijoto, Buah Khas Kudus yang Berkhasiat
Jika saya lihat, saat ini banyak produsen batik Kudus yang mulai mengembangkan motifnya sesuai dengan hal-hal yang khas di kudus. Beberapa motif lain diantaranya adalah motif tembakau, motif menara, motif jenang, motif lentog tanjung, motif tugu identitas, motif GK3 dan masih banyak motif-motif lainnya.

2. Stand Batik Demak


Demak merupakan salah satu kota Wali yang juga memiliki batik khas kota tersebut. Motif yang digunakan oleh Demak adalah buah jambu air yang mana buah tersebut merupakan buah khas Demak yang memiliki rasa manis dan dagingnya lembut. Ah, jadi ngiler kalau inget makan buah khas Demak ini. Selain jambu, Demak juga mengembangkan motif batiknya sesuai dengan hal hal yang menjadi ciri khas Demak.  Adapun motif lain yang digunakan diantaranya adalah motif pintu bledeg, dan motif belimbing.

3. Stand Batik Grobogan


Yang ke tiga adalah Stand Batik Grobogan. Saya bergeser ke stand kota Grobogan. Grobogan merupakan salah satu kota yang terkenal dengan wisata Bledug kuwu dan Api Abadi Mrapen. Saya berfikir bahwa motif utama yang digunakan oleh Grobogan adalah tempat wisata tersebut. Dugaan saya salah. Motif batik yang digunakan oleh Kabupaten Grobogan adalah Jagung. Jagung merupakan komoditas utama petani di Kabupaten Grobogan. Walaupun Api Abadi dan Bledug Kuwu tidak dijadikan sebagai identitas utama untuk motif batik, tetapi dua ikon kabupaten Grobogan tersebut tetap digunakan untuk motif batik, namun bukan motif utama. Selain itu juga ada motif daun jati, kembang turi, padi dll.

4. Stand Batik Jepara


Jepara memang terkenal dengan sentra tenun yang sudah melegenda. Namun ternyata, Jepara juga memiliki sentra batik dengan ciri khas yang Jepara banget lo… Sayapun mengetahuinya saat mendatangi Stand Batik Jepara. Motif yang digunakan oleh Kabupaten Jepara adalah Motif Lung-Lung Jepara. Kalau boleh, saya menyebutnya ukiran atau sulur. Jika dilihat dari motifnya memang seperti ukiran. Jepara kini mulai mngembangkan sentra idustrinya dibidang batik setelah terkenal dengan tenunnya. Waaaah keren yaaa….

5. Stand Batik Purbalingga


Saya kembali bergeser ke stand sebelah. Ada stand batik dari daerah Purbalingga. Purbalingga mengandalkan tempat wisata sebagai motif utama batiknya. Motif yang digunakan adalah Goa Lawa dengan nama Pesona Goa Lawa. Dari namanya saja sudah mempesona kedengarannya. Ini cukup menarik bagi saya. Selain memperkenalkan batiknya, tanpa disadari itu sudah mempromosikan salah satu tempat wisata yang ada di Purbalingga.

6.  Stand Batik Batang

Lain Purbalingga, lain lagi dengan Batik Khas Batang. Batik khas Batang bukan menonjolkan ciri khas dari kota tersebut, namun lebih ke pemilihan bahan dan warna yang digunakan. Hal ini yang membedakan antara batik khas Batang dengan daerah lain. Batik khas Batang dikenal dengan sebutan Batik Warna Alam. Mengapa demikian? Karena warna-warna yang digunakan untuk pembuatan batik di Batang, semuanya menggunakan warna-warna dari tumbuh-tumbuhan.

Saya cukup heran dengan warna yang dihasilkan dari beberapa tumbuhan. Salah satu contohnya adalah warna dari kulit pohon mengkudu. Warna yang dihasilkan dari kulit pohon mengkudu adalah ungu. Saya sempat tidak percaya dengan warna yang dihasilkan oleh kulit pohon mngkudu tersebut, namun produsen meyakinkan saya bahwa warna ungu memang dihasilkan dari kulit pohon mengkudu. Selain kulit pohon mengkudu, produsen juga menggunakan daun jati, kayu mahoni, kayu nangka, daun indigo, kayu laban, dan kayu mangga sebagai penyuplai warna alami batik khas Batang.
Jika dilihat dari warnanya, batik khas Batang ini memang terlihat lebih soft, lebih teduh dan nyaman dipandang mata. Jika diraba, pun rasanya lebih halus. Warna yang dhasilkan tidaklah mencolok seperti batik-batik lain. Disitulah keunikan dari batik Khas Batang ini. Ngomongin masalah harga, jika kamu ingin membeli batiknya, rogoh kocek sedikit kedalam ya hehehe. Harga perpotong batik warna alam khas Batang ini mulai dari 1,5 juta. Kalau menurut saya, harga tersebut sepadan dengan Batik Khas Batang ini.

7. Stand Batik Sragen

Tak bosan-bosannya saya menjelajah batik di Dhandangan. Saya kembali bergeser ke Stand berikutnya. Ada Stand Batik dari kota Sragen. Sragen memiliki batik dengan motif refolusi manusia purba. Mulai dari manusia kera hingga berbentuk manusia sempurna. Namun saat itu pengelola tidak membawa batik dengan motif tersebut, sehingga saya pun tidak bisa melihatnya. Beliau menjelaskan bahwa orang Sragen belum begitu pede menunjukkan batik khasnya dengan motif purbakala. Maka dari itu beliau tidak membawanya ke Dhandangan. Namun sudah banyak anggota Pemda Sragen yang memakai batik tersebut.

Saat ini, batik khas Sragen masih mengadopsi motif batik dari Solo. Salah satu yang ditunjukkan ke saya adalah motif wayang kulit. Cukup lama ngobrol dengan pengelola tentang batik khas Sragen ini, namun yang membuat saya penasaran adalah motif Purbakala itu sendiri. Mungkin lain waktu saya disarakan untuk ke sragen dan melihat batik dengan motif purbakala tersebut.

8. Stand Batik Boyolali

Lanjut mengenal batik Jawa Tengah di Dhandangan. Saya bergeser ke Stand batik daerah Boyolali. Boyolali memiliki batik dengan ciri khas Lembu atau sapi. Motif batik khas Boyolali ini dikenal dengan sebutan Batik Lembu Sora. Motif Batik Lembu Sora  dikombinasikan dengan daun dan bunga yang digambar sedemikian rupa sehingga membentuk motif batik yang indah.

9. Stand Batik Karanganyar


Yang terakhir saya kunjungi adalah stand Batik khas Karanganyar. Motif yang dituangkan pada batik khas Karangayar ini adalah daun-daunan. Warna yang dipakaipun hijau, lebih menonjolkan sisi alam karena Karanganyar memiliki alam yang cocok untuk dikunjungi sebagai tempat wisata.
Nah, itulah beberapa Stand Batik di Dhandangan yang sempat saya kunjungi. Sangat menarik bisa belajar mengenal motif batik se Jawa Tengah di Dhandangan Kudus. Sebenarnya masih ada banyak lagi seperti Batik khas Semarang, Pati, Wonogiri dan masih bbanyak Stand Batik dari kota lain.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Tenda dan lapak jualanpun mulai ditutup dengan terpal ataupun kain.  Menandakan Dhandangan telah tutup untuk hari itu dan akan dibuka kembali sore hari mulai pukul 15.00 WIB.
Oh iya, Dhandangan tinggal 2 hari lagi loh. Yuk sempetin ke Dhandangan Kudus untuk mengetahui apa  saja yang ada di Dhandangan?

Event, Wisata Belanja

52 thoughts on “Mengenal Motif Batik se-Jawa Tengah di Dhandangan Kudus

  1. Malah banyak stand batik dari beberapa kabupaten di Jawa Tengah ya. Ngarep lihat batik Kudus klasik yang bermotif bunga dan biasa buat jarik nyonyah itu, tapi di atas hanya motif kreasi baru yang dipamerkan hehe. Ahh sayang nggak sempet lihat Dhandangan untuk tahun ini, telat tahu infonya. >_<

  2. Ternyata hampir setiap daerah mempunyai motif tersendiri ya mas…penasaran dengan buah Parijoto yang kayak gimana…kapan” pengen ke kudus mas…5 jam dari tempat saya

    1. Betl Mas. Setiap daerah di Jawa Tengah sebenarnya memang memiliki motif batik khas dari kota itu. Ayok kalau mau ke Kudus. Nanti bisa incip-incip Bah Parijoto sama kulinernya mas.

    1. Kalau aku paling suka malah Batik klasik hehehe. Warna-warnanya lebih soft dan etnik banget. Kebetulan ini standnya khusus batik Jawa Tengah, jadi Jogja nggak ikutan hehehe

  3. Aku udah pernah lihat proses pembuatan “batik” Palembang dan “batik” Aceh. Kayaknya proses pembuatan yang di Kudus ini sama aja ya. Tapi tetep penasaran euy, motifnya cantik dan warnanya ceriah. Dalam benakku, motif jawa itu cenderung berwarna kalem dan banyak main garis bukan gambar.

      1. Iya betul. Bagus juga sih, lebih variatif. Generasi “lama” masih bisa pake batik yang bercorak dan berwarna kalem dan simpel. Anak muda bisa pilih yang meriah dan dinamis hehehe

  4. Saya sudah lama sekali ingin ikut event dan dengan in Saya sudah lama sekali ingin ikut event Dandangan ini. Namun sampai sekarang belum juga terkabul. Apalagi kalau event nya dibarengin juga dengan pameran seni dan budaya, keren banget. Jadi nambah pengetahuan yang Mas mengenai motif-motif batik dari daerah daerah di Jawa. Suka sekali melihat motif yang kurang lebih berbeda walaupun tempat-tempat tersebut relatif juga berdekatan

    1. Mbak Evi harus cobain ke Kudus buat muter2 ke Dhandangan. Tapi jangan ngeluh loh ya, karena event ini panjang banget, sekitar 1 km lebih dan itu harus jalan kaki. Dan stand batik merupakan hal yang membuat berbeda untuk Dhandangan tahun ini.

  5. Wah, kukira “dhandangan” ini dari asal kata dandang: tempat menanak nasi itu, ternyata bedug, terus bunyinya kalau di Malam dan Jatim kebanyakan bunyinya dug… dug… dug… Beda provinsi bisa ya beda suara bedug gitu, haha.
    Batik Pesona Goa Lawa itu berapaan ya mas harganya? Aku kok ngefans. 😀

    1. Bedug berbunyi suara dug jika dipukul tengahnya mas. Dan jika di pukul bagian pinggir maka keluar suara dang. Hehehehe Untuk batik Pesona Goa Lawa mulai dari Rp. 120.000,- Mas.

        1. Tugu identitas Kudus merupakan salah satu bangunan di pusat perbelanjaan di Kudus yang bentuknya mirip menara Mas. Pada waktu kecil sering naik ke sana.
          Kalau GK3 (Gerbang Kudus Kota Kretek) yang merupakan icon baru kota Kudus. Lokasinya berada di perbatasan Kota Demak dan Kudus Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *